Lelah menepis kekalutan jiwa di setiap kata yang terlontarkan saat detik berbicara mengenai waktu.
Berdiri senyawa dengan ketukan detak jantung yang menghitung alur nadi duniaku.
Kediaman hati yang terbelah ditebah oleh demam falsafah pengukir panggung dunia.
Sejatinya melebur larut membaurkan air mata yang terteteskan di telaga kesedihan.
Dan walau sedianya diharuskan 'tuk tetap menapak wajah jejak di langit bumi,
tubuh tak kuasa lagi 'tuk menopang dirinya sendiri,
ataupun membiarkan kaki menarikan langkah 'tuk melukis kanvas langit.
Biarkan aku terbaring lemas di pembaringan yang meneduhkan terik matahariku.
Lalu biarkan aku menjarah udara yang disimpan alam 'tuk penuhi ruang hampanya,
perlahan membungkam sesuatu yang tak sempat dibisikkannya ke telinga sang petir
dan terlelap menatap mimpi yang dininabobokkan oleh nyanyian pengantar tidur
aku terbaring, terlelap dan takkan terpasung namun tetap menyimpan nafas dan menghimpun kebangkitan
untuk kembali merajai getir-getir kehidupan yang ditahtakan oleh alam
29 Mei 2008
-Rv-
