"Pacarku nggak punya lidah? Wah, kayaknya aku bakal mikir-mikir lagi deh!" buka Vickie sambil bergidik ngeri. "He-eh, pasti nyeremin," tambah Yusril. "Alaaah, jangan alasan aja! Kalian nggak mau pacaran sama cewek tak berlidah, soalnya takut nggak bisa ciuman kan?" tanpa tedeng aling-aling, Bella langsung menuduh dua kaum adam di hadapannya. "Iya tuh, dasar mesum! Di otaknya cuma mikir gituan. Kalian sama sekali nggak menghargai arti cinta sejati," Lia ikut meradang. Merasa tersudut, Vickie melakukan serangan balasan. "Emang, kalian bakal tetap setia kalau cowok kalian nggak punya lidah? Ah, nggak usah muna deh! Hari gini ngomongin cinta?" solotnya. "Cinta bukan segalanya. Kalian tentu nggak mau, kalau suami kalian nanti nggak punya pekerjaan. Nah, kami juga sama. Kami nggak bisa, kalau istri kami nanti nggak berlidah. Cinta itu sesuatu yang bersyarat kok," "Emangnya kita makan cinta doang?" Vickie merasa menang. Para hawa hening. Diam-diam mereka membenarkan juga omongan Vickie dan Yusril. Memang persyaratan cinta dari tiap-tiap orang berbeda. Ada yang mengharuskan pasangannya berparas bagus, berdompet tebal, berkulit putih, berambut lurus, atau… berlidah. Hanya memiliki lidah aja udah cukup. "Di dunia modern seperti sekarang ini, cinta bukanlah nomor satu. Karena kita juga butuh materi, kepuasan lahir dan batin, dan banyak hal lain. Kita nggak bisa memungkiri itu. Tapi, bukan berarti cinta nggak penting lho," Nina memecah kesunyian. Para bookaholic antusias mendengarkan, semuanya memasang mata dan telinga. Menurut Nina, perasaan hangat dalam hatilah yang terus menyatukan kita dan pasangan. Perasaan ini lebih kekal ketimbang materi, lidah, atau yang lainnya. "Boys, dengarkan baik-baik omongan tadi! Cinta sifatnya lebih everlasting, beda dengan lidah. Suatu saat pasti kita juga bosan dengan rasa lidah pasangan," Bella mengingatkan, yang diingatkan cuma cengar-cengir tak berubah. Diskusi ditutup dengan acara makan bersama. Tanpa malu-malu, kelima pecinta buku langsung larut dalam kelezatan hidangan. "Aku jadi kepikiran, seandainya semua orang di dunia baca buku ini. Pasti kriteria pasangan idaman mereka jadi berubah. Bukan lagi yang ganteng, cantik, atau tajir, tapi cukup satu, yaitu "Punya Lidah." Hehehe, keren!" koar Vickie. "Belum tentu. Kan nggak semua orang di dunia, selalu mengutamakan nafsu duniawi kayak kamu," sindir Lia. "Enak aja! Kamu tuh…." Sebelum Vickie jengkel, Nina segera melerai pertengkaran. "Udah, udah.. makan dulu, Yuk! Ntar diskusinya dilanjut lagi," ujarnya.
Saturday, April 26, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment