Sunday, April 27, 2008

Ketika putih menggoreskan keanggunan diatas hitam

Ketika putih menggoreskan keanggunan diatas hitam ..
Ketika bulan tak lagi menghadirkan senja untuk menjemput terik siangku ..
Ketika tak terlahir lagi tatapan mata lembut seteduh milikmu ..
Menengadahkan muka menanti sentuhan tanganmu bertopeng rasukan angin penebah hati adalah satu yang sesungguhnya menjadi kekuatan dalam saksi ketegaran yang mulai melapuk ..
Tertunduk terpejam menyaksikanmu menarikan cinta dalam kebutaan putih yang menenggelamkan pandangan kabutku akan makna arti kehampaan ..
Kesunyian membungkus balutan kafan-kafan jiwa sepi yang menepi di ujung batas ufuk dunia ..
Seketika harus menyedakkan nafas 'tuk kembali menghidupkan jantungku yang tak lagi berdetak selaras dengan detik dunia ..
Bergema bersuara diantara gua-gua yang mengapit kekakuan tubuhnya sendiri ..

28 April 2008

-Rv-

Saturday, April 26, 2008

Lidah dalam Kehidupan Cinta

"Pacarku nggak punya lidah? Wah, kayaknya aku bakal mikir-mikir lagi deh!" buka Vickie sambil bergidik ngeri. "He-eh, pasti nyeremin," tambah Yusril. "Alaaah, jangan alasan aja! Kalian nggak mau pacaran sama cewek tak berlidah, soalnya takut nggak bisa ciuman kan?" tanpa tedeng aling-aling, Bella langsung menuduh dua kaum adam di hadapannya. "Iya tuh, dasar mesum! Di otaknya cuma mikir gituan. Kalian sama sekali nggak menghargai arti cinta sejati," Lia ikut meradang. Merasa tersudut, Vickie melakukan serangan balasan. "Emang, kalian bakal tetap setia kalau cowok kalian nggak punya lidah? Ah, nggak usah muna deh! Hari gini ngomongin cinta?" solotnya. "Cinta bukan segalanya. Kalian tentu nggak mau, kalau suami kalian nanti nggak punya pekerjaan. Nah, kami juga sama. Kami nggak bisa, kalau istri kami nanti nggak berlidah. Cinta itu sesuatu yang bersyarat kok," "Emangnya kita makan cinta doang?" Vickie merasa menang. Para hawa hening. Diam-diam mereka membenarkan juga omongan Vickie dan Yusril. Memang persyaratan cinta dari tiap-tiap orang berbeda. Ada yang mengharuskan pasangannya berparas bagus, berdompet tebal, berkulit putih, berambut lurus, atau… berlidah. Hanya memiliki lidah aja udah cukup. "Di dunia modern seperti sekarang ini, cinta bukanlah nomor satu. Karena kita juga butuh materi, kepuasan lahir dan batin, dan banyak hal lain. Kita nggak bisa memungkiri itu. Tapi, bukan berarti cinta nggak penting lho," Nina memecah kesunyian. Para bookaholic antusias mendengarkan, semuanya memasang mata dan telinga. Menurut Nina, perasaan hangat dalam hatilah yang terus menyatukan kita dan pasangan. Perasaan ini lebih kekal ketimbang materi, lidah, atau yang lainnya. "Boys, dengarkan baik-baik omongan tadi! Cinta sifatnya lebih everlasting, beda dengan lidah. Suatu saat pasti kita juga bosan dengan rasa lidah pasangan," Bella mengingatkan, yang diingatkan cuma cengar-cengir tak berubah. Diskusi ditutup dengan acara makan bersama. Tanpa malu-malu, kelima pecinta buku langsung larut dalam kelezatan hidangan. "Aku jadi kepikiran, seandainya semua orang di dunia baca buku ini. Pasti kriteria pasangan idaman mereka jadi berubah. Bukan lagi yang ganteng, cantik, atau tajir, tapi cukup satu, yaitu "Punya Lidah." Hehehe, keren!" koar Vickie. "Belum tentu. Kan nggak semua orang di dunia, selalu mengutamakan nafsu duniawi kayak kamu," sindir Lia. "Enak aja! Kamu tuh…." Sebelum Vickie jengkel, Nina segera melerai pertengkaran. "Udah, udah.. makan dulu, Yuk! Ntar diskusinya dilanjut lagi," ujarnya.

Aku Hati Jiwa Dan Cintaku

aku hati jiwa dan cintaku ...

berserah kepada keanggunan riak ombak duniamu

melarikan langkahku mengejar denting detikmu yang mengaduh

serentak menyanyikan bait syair yang melukis pelangimu dengan cinta

meniadakan sosok dalam tubuhku lalu memakunya dalam tubuhmu

aku mati, lalu kembali menghimpun nafas kehidupan setelah kau hembuskan nyawa cintamu

memelodikan senandung kelembutan romantisme kalbuku untukmu

memasung kasih yang tak pernah sebelumnya kukandungkan dalam diri seseorang

aku tlah mencintaimu, melalui setiap nafas cinta yang kau hirup di pagi cerahmu

melalui serangkaian nada-nada indah yang melambungkan jiwamu ke pelukanku

hingga tak perlu lagi securam kedalaman lautan atau seluas tebing-tebing bukit untuk jauhkan kita

karena hati, jiwa, cinta, kasih dan diri kita kan slalu bersama ... selamanya ...

26 Maret 2008

With Love,

-Rv-

Bulan Sabitku

Kau selalu tawarkan senyum di setiap langkah yang harus kujejakkan.

Kau selalu suguhkan tawa di semua cerita yang kukisahkan.

Kau hidupkan detak jantungku di semua udara yang menyekap nafasku.

Kau selalu terbitkan kedamaian di setiap detik-detik yang menjerit menerjangku.

Kau hidup dan bercerita dalam kisahmu hanya sekedar ’tuk melengkapi bagian tak sempurna yang hidup dariku.

Kau awan teduh yang memayungi naunganku dari terik matahari siang.

Kau selayaknya teh hangat yang meleburkan peluh dan penatku.

Dan engkaulah bulan sabitku di malam yang melarutkan semua kepahitan jejak dalam langkahku.

Hanya dirimulah yang sanggup menyuguhkan senyum, tawa, hidup, damai, teduh, hangat dan cinta dalam hati, jiwa dan cintaku.

I Love U

01.04.08

-Rv-

Keabadian Perasaan

Keabadian perasaan bersaksi dibalik kesetiaan hati yang meraung mematungkan cinta

mengiris setiap kulit benci yang menyelimuti tubuh pusaka cinta

menebah makna dalam secarik saksi arti pengorbanan

seperti menisbikan patung dusta yang mengalir menggenangi goresan kepahitan asa

dan menelurkan secercah melodi melankolis kasih,

mengokohkan pijakan cinta di atas padang cobaan,

hingga menguar merajai langit

dan melukis punggung awan dengan deretan kalimat indah penyayat hati

setiap detik yang menghitung putaran roda kehidupan

menyandarkanku dalam pelukan kehangatan lautan asmara

meretaskan tali pengikat jiwa yang mengekang gerakan bahasa tubuh

membebaskan setiap kata yang kan selalu diterjemahkan dunia kasih,

menjelmakannya menjadi tarian nada-nada kasih yang syahdu

seperti setiap tarikan nafas yang kuhirup bersamamu

mengisyaratkan sucinya cinta dan hidup yang ingin ku bangun denganmu

lalu ingin ku ukir kisah ini di semua lembaran yang dicipta sabda alam

tersirat di setiap butir udara yang terhirup, meresap meracuni jiwa dengan cinta

dan merekam setiap kata cinta yang dilahirkan kasih kita,

menjadikannya abadi,,

dan takkan pernah teruzur walau detik tlah lelah tuk menandai waktu.

04.04.08

-Rv-

Romantisme Cinta

Dari sekian matahari yang membenamkan malam, hanya satu bulan yang memejamkan mataku dalam kelamunan nyatanya dunia.

Hanya satu dewi bulan yang menghadirkan redup mesra kekelaman senja yang menjemput terik hariku.

Dan menyanyikan nada-nada kasih pelebur jiwaku dalam tubuhmu.

Demi sepatah ikrar yang kan disaksikan sabda alam,

biarkan sejengkal nafas yang melarikan hidupku lebih panjang ini menyaksikan keutuhan cinta suci penyatu inti insan kita.

Aku ingin selalu mendampingi cahaya yang menarikan keanggunanmu di pelupukku.

Mengiringimu mengukir kisah yang takkan pernah dilupakan dunia,

abadi menemani setiap kedip detak jantung manusia.

Selayaknya puisi cinta yang memahat romantisme cinta di punggung hati kita,

aku ingin cinta ini takkan pernah usang walau harus tenggelam dalam lautan waktu yang menjadikannya tua,

takkan pernah lapuk walau disapu buih-buih ombak kebohongan yang menjadikannya rapuh,

dan takkan pernah lebur walau berlarut bersama kesedihan yang mengikis mata dan mengubur noktah tetesan air mata.

Cinta ini kan selamanya bernafas di setiap hembusan yang kita hirup,

Kasih ini kan selamanya terajut di peraduan hati kita berdua.

Bersamamu …

Hingga akhir …

02.04.08

- Rv -

Friday, April 18, 2008

Bahasa Pengadil Lumbung Jiwa

Kebijakan petuah bahasa pengadil lumbung jiwa

Merontokkan daun pengumbar kedamaian,

Terpetik gemulai oleh jentik detak detik yang menghitung

Menebarkan teror perusak rona darah roman terik tak teredam

Sejengkal melemahkan tempatku berpijak

Melumpuhkan mataku tuk menandai pergantian senja dan malam

Menitikkan peluhku, jatuh bersimbah meleburkan kepenatan yang melapuk

Tersungkur, tertidur, dan terlelap selamanya ...

-Rv-